Minggu, 11 September 2011

KONSEP KEBIDANAN


TEORI MODEL KEBIDANAN

Pendahuluan:     
Model dalam teori kebidanan indonesia mengadopsi dari beberapa model negara dengan berdasarkan dari beberapa teori yang sudah ada disamping dari teori & model yang bersumber dari masyarakat.
Model asuhan kebidanan didasarkan pada kenyataan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan episode yang normal dalam siklus kehidupan wanita.
Model kebidanan ini dapat dijadikan tolak ukur bagi bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan pada klien sehingga akan terbina suatu hubungan saling percaya dalam pelaksanaan askeb. Dengan ini diharapkan profesi kebidanan dapat memberikan sumbangan yang berarti dalam upaya menurunkan angka kesakitan, trauma persalinan, kematian & kejadian seksio sesaria pada persalinan.
  
A. Pengertian
Konsep                 :Penopang sebuah teori yang menjelaskan tentang suatu
teori yang dapat diuji melalui observasi atau penelitian.
Model                  :  Contoh atau peraga untuk menggambarkan sesuatu.
Kebidanan            :  Merupakan ilmu yang terbentuk dari berbagai disiplin
ilmu (multi disiplin) yang terkait dengan pelayanan
kebidanan meliputi ilmu kedokteran, ilmu keperawatan,
ilmu sosial, ilmu perilaku, ilmu buaya, ilmu kesehatan
masyarakat dan ilmu manajemen untuk dapat
memberikan pelayanan kepada Ibu dalam masa
prakonsepsi, konsepsi, masa hamil, Ibu bersalin, post
partum, bayi dan baru lahir. Pelayanan tersebut meliputi
pendeteksian keadaan abnormal pada Ibu dan anak,
melaksanakan konseling dan pendidikan terhadap
individu, keluarga dan masyarakat
Model Kebidanan : Suatu bentuk pedoman atau acuan yang merupakan kerangka kerja seorang bidan dalam memberikan asuhan kebidanan.

Konseptual Model :
1.    Gambaran abstrak suatu ide yang menjadi dasar suatu disiplin ilmu.
2.  Pada dasarnya sama dengan pengertian konsep kerangka kerja, sistem dan skema. Menunjukan pada ide global tentang individu, kelompok, situasi, dan kejadian yang menarik untuk suatu ilmu. Konseptual model biasanya berkembang dari wawasan intuitif, keilmuan dan seringkali disimpulkan dalam kerangka acuan disiplin ilmu yang bersangkutan (Fawcett, 1992) sehingga konseptual model memberikan gambaran abstrak atau ide yang mendasari suatu disiplin ilmu.
3.  Model member! kerangka untuk memahami dan mengembangkan praktek untuk membimbing tindakan dalam pendidikan untuk mengidentifikasi pertanyaan yang harus di jawab dalam penelitian. Konsep model ditunjukan dengan banyak cara yaitu mental model, fisikal model dan simbolik (Lancaster and Lavcaster, 1992).

B.  Konseptual Model Kebidanan
Dalam memberikan akan suatu gambaran tentang pelayanan dalam praktek kebidanan dan memberi   jawaban - jawaban atas pertanyaan, apa yang merupakan praktek kebidanan.
Model dalam Kebidanan berdasarkan pada 4 elemen :
1.   Orang (wanita, ibu, pasangan, dan orang lain)
2.   Kesehatan
3.   Lingkungan
4.   Kebidanan



                           
 
C.  Kegunaan Model
1.  Untuk menggambarkan beberapa aspek (kongkrit maupun abstrak) dengan mengartikan persamaannya seperti struktur, gambar, diagram, dan rumus. Model tidak seperti teori, tidak memfokuskan pada hubungan antara dua fenomena tapi lebih mengarah pada struktur dan fungsi. Sebuah model pada dasarnya anologi atau gambar simbolik sebuah ide (Wilson, 1985)
2.  Merupakan gagasan mental sebagai bagian teori yang memberikan bantuan ilmu-ilmu sosial dalam mengkonsep dan menyamakan aspek-aspek dalam proses sosial (Gait dan Smith, 1976)
3.  Menggambarkan sebuah kenyataan, gambaran abstrak sehingga banyak digunakan oleh disiplin ilmu lain sebagai parameter garis besar praktek (Bemer. 1984)
Model Kebidanan dapat digunakan untuk :
 1 .    Menyatukan data secara lengkap
a. Tindakan    sebagai   bantuan   dalam   komunikasi   antara   bidan   dan pimpinan.
b. Dalam pendidikan untuk mengorganisasikan program belajar.
c. Untuk komunikasi bidan dengan klien.
2.     Menjelaskan   siapa   itu   bidan,   apa yg dikerjakan,  keinginan, & Kebutuhan untuk :
a. Mengembangkan profesi
b. Mendidik siswi bidan
c. Komunikasi dgn Klien dan pimpinan.

D.  Komponen dan macam Model Kebidaaan
Model kebidanan dibagi menjadi 5 komponen , yaitu :
1.  Memonitor kesejahteraan ibu
2. Mempersiapkan ibu dgn memberikan pendidikan & konseling
3. Intervensi teknologi seminimal mungkin.
4. Mengidentifikasi dan member! bantuan obstetric
5. Lakukan rujukan

Beberapa Macam Model Kebidanan
1.    Model dalam mengkaji kebutuhan dalam praktek kebidanan.
Model ini memiliki 4 unit yang penting, yaitu :
a.   Ibu dalam keluarga
b.   Konsep kebutuhan
c.   Partnership
d.   Faktor Kedokteran dan keterbukaan
2.   Model medical
Merupakan  salah   satu   model  yang  dikembangkan   untuk  membantu manusia dalam memahami proses sehat sakit dalam arti kesehatan. Tujuannya adalah sebagai kerangka kerja untuk pemahaman dan tindakan sehingga dipertanyakan dalam model ini adalah "Dapatkah dengan mudah dipahami dan dapatkah dipakai dalam praktek?".
3.   Model sehat untuk semua (Health For All-HFA)
Model ini dicetuskan oleh WHO dalam Deklarasi Alma Atta tahun 1978. Fokus pelayanan ditujukan pada wanita, keluarga dan masyarakat serta sebagai sarana komunikasi dari bidan-bidan negara lain. Tema HFA menurut Euis dan Simmet (1992) :
a.   Mengurangi ketidasamaan kesehatan
b.   Perbaikan kesehatan melalui usaha promotif dan preventif
c.   Partispasi masyarakat
d.   Kerjasama yang baik pemerintah dengan sector lain yang terkait
e.   Primary Health Care (PHC) a/ dasar pelayanan utama dari sistem pelayanan kesehatan.
PHC adalah pelayanan kesehatan pokok yang didasarkan pada praktek, ilmu pengetahuan yang logis dan metode sosial yang tepat serta teknologi universal yang dapat diperoleh oleh individu dan keluarga dalam komunitas melalui partisipasi dan merupakan suatu value dalam masyarakat   dan   negara   yang   mampu   menjaga   setiap   langkah perkembangan berdasarkan kepercayaan dan ketentuannya.
Dari model HFA dan deftnisi PHC terdapat lima konsep (WHO, 1998) :
a.  Hak penentuan kesehatan oleh cakupan populasi universal dengan penyedia asuhan berdasarkan kebutuhan.
b. Pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, dimana pelayanan dapat memenuhi segala macam tipe-tipe kebutuhan yang berbeda harus disediakan dalam satu kesatuan (semua pelayanan dalam satu tempat).
c.  Pelayanan harus efektif, dapat diterima oleh norma, dapat menghasilkan dan diatur, yaitu pelayanan harus dapat memenuhi kebutuhan yang dapat diterima oleh masyarakat dan pelayanan harus dimonitor dan diatur secara efektif.
d.   Komunitas harus terlibat dalam pengembangan, penentuan pemonitoran pelayanan, yaitu penentuan asuhan kesehatan merupakan tanggung jawab semua komunitas dan kesehatan dipandang sebagai faktor yang berperan untuk pengembangan seluruh lapisan masyarakat.
e.  Kolaborasi antar sekolah untuk kesehatan itu sendiri dan pelayanan kesehatan tidak dapat bergantung pada pelayanan kesehatan saja tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti : perumahan, polusi lingkungan, persediaan rnakanan dan metode pubikasi.

Delapan area untuk mencapai kesehatan bagi semua melalui PHC, delapan area ini adalah :
a.   Pendidikan tentang masalah kesehatan umum & metode pencegahan dan pengontrolannya
b.   Promosi kesehatan tentang persediaan makanan dan nutrisi yang layak
c.   Persediaan air yang sehat dan sanitasi dasar yang adekuat
d.   Kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana
e.   Imunisasi
f.    Pencegahan dan pengawasan penyakit endemic
g.   Pengontrolan yang tepat terhadap kecelakaan dan penyakit umum
h.   Persediaan obat-obat essensial (morley at all, 1989)

4.   Model sistem maternitas di komunitas yang ideal University of Southeer Queensland
- Model kurikulum konseptual patnership dalam praktek kebidanan berdasarkan pada model pelayanan kesehatan dasar. ( Guiilliland dan pairman, 1995 )
-    Patnership kebidanan adalah sebuah flllosofi prospektif dan suatu model kepedulian
( model of care ) sebagai model flllosofi prospektif berpendapat bahwa wanita dan bidan dapat berbagi pengalaman dalam proses persalinan.
-   Persalinan merupakan proses yang sangat normal
- Sebuah hubungan patnership menggambarkan dua orang yang bekerjasama dan saling menguntungkan
-   Bidan bekerja keras bahwa bidan tidak memaksakan suatu tindakan melainkan membantu wanita untuk mengambil keputusan sendiri
Konsep " wanita" dalam asuhan kebidanan meliputi mitra perempuan tersebut, keluarga, kelompok dan budaya.
-    Konsep bidan dalam asuhan kebidanan meliputi bidan itu sendiri, mitranya   atau   keluarga,   budaya/sub   kultur   bidan   tersebut   dan " wewenang profesional bidan
Dengan membentuk hubungan antara bidan dan wanita akan membawa mereka sendiri sebagai manusia kedalam suatu hubungan patnership yang mana akan mereka gunakan dalam teurapetik. Bidan harus mempunyai self knowing, self nursing, dan merupakan jaringan pribadi dan kolektif yang mendukung.
Sebagai model of care the midwifery patnership didasarkan pada prinsip midwifery care  berikut ini :
a.  Mengakui   dan   mendukung   adanya   keterkaitan   antara   badan, pikiran, jiwa. fisik, dan lingkungan kultur sosial ( holism)
b.  Berasumsi bahvva mayoritas kasus wanita yang bersalin dapat di tolong tanpa adanya intervensi.
c.   Mendukung dan meningkatkan proses persalinan alami tersebut.
d.   Bidan menggunakan suatu pendekatan pemecahan masalah dengan sen! dan ilmu pengetahuan.
e.   Relationship-based dan dan kesinambungan dalam motherhood,
f.   Woman centered dan bertukar pikiran antara wanita
g.   Kekuasaan  wanita yaitu  berdasarkan  tanggung jawab  bersama untuk    suatu    pengambilan    suatu    keputusan,    tetapi    wanita mempunyai kontrol atas keputusan terakhir mengenai keadaan diri dan bayinya
h.  Dibatasi oleh hukum dan ruang lingkup prakterk individu : dengan persetujuan wanita bidan merujuk fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas.

Hubungan antara wanita, bidan dan dokter harus didasari oleh rasa saling menghormati dan saling percaya, bidan boleh mempertanyakan masalah medis atau perlindungan hukum untuk wanita untuk alasan apapun, jika wanita tersebut tidak mampu berbicara atas namanya sendiri.
Persepsi mahasiswa kebidanan di tentukan oleh bidan di bagian pelayanan untuk mengantisipasi siswa dalam menghadapi kasus yang di temukan di dalam tim, tetapi praktek siswa akan dibatasi oleh bidan dan akan mengajarkan beberapa pelayanan khusus kebidanan yang akan mengajarkan beberapa pelayanan khusus kebidanan yang akan meningkatkan kemamapuan dan ketrampilan siswa, peran perseptor akan semakin berkurang dalam praktek dan hanya akan menjadi penasehat dan pendukung

5.   Model Asuhan Home Based
Dasar asuhan kebidanan berdasarkan home based merupakan unsure therapeutic yang terdiri dari sebuah kesadaran dan menjaga hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan dan dibentuk untuk memfasilitasi asuhan yang berkualitas. Tanggungjawab dan kejujuran merupakan hal yang harus dibangun dalam hubungan antara bidan dank lien. Proses persalinan dirumah (Home Birth) sejak lama telah menggunakan konsep "early discharge" sebagai bagian dari Home Based Midfwifery Care.
Asuhan kebidanan secara tradisional telah memiliki asuhan yang berpusat pada wanita.kontinuitas dari asuhan kebidanan dapat membentuk waktu yang efektif dalam pemantauan selama kunjungan prenatal sehingga dapat terjalin hubungan therapeutic secara personal antara bidan dan keluarganya.
Asuhan yang berkelanjutan (continuity of care) dapat membuat bidan dan keluarga belajar satu sama lain untuk menentukan rencana dan memberikan asuhan yang baik sesuai dengan kebutuhan, khusunya untuk klien. Dengan proses ini akan terbuka komunikasi dan membangun komitmen dari bidan dan keluarga dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan bersama. Partisipasi secara alami dalam home based midwifery care dapat memberikan kewsempatan pada calon orangtua untuk mempelajari cara-cara mengasuh bayinya. Keterampilan ini komponen yang penting dalam pendidikan prenatal karena bidan tidak selalu mendampingi ibu.
Hubungan therapeutic dan dukungan secara "team" yang ditetapkan dalam home based midwifery care telah digunakan bertahun-tahun lalu. Dengan pendekatan ini diharapkan klien bisa mandiri secara dini. Hal ini yang telah menunjukan hasil yang baik, dimana resiko yang terjadi pada ibu bisa segera diketahui. Kernandirian dari klien atau komponen integral dari home based midwifery care dan dapat ditetapkan sebagi sebuah model pada wanita yang memilih melahirkan di rumahsakit.
E. Teori Model Kebidanan
Teori adalah seperangkat konsep atau pernyataan yang dapat secara jelas menguraikan fenomena yang penting dalam sebuah disiplin teori yg termasuk dalam teori model kebidanan adalah :
1.   Ruper, Logan dan Tierney Activity of living Model :
  Model yang dipengaruhi oleh Virginia Henderson Model. Terdiri dari 5 elemen :
a.   Rentang Kehidupan
b.   Aktivitas Kehidupan
c.   Ketergantungan atau kebebasan individu
d.   Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas individu

Dalam model ini diidentifikasi adanya  12 macam kebutuhan manusia sebagai proses kehidupan yaitu:
a.   Mempertahankan lingkungan yang aman
b.   Komunikasi
c.   Bernafas
d.   Makanan dan minuman
e.   Eliminasi
f.   Berpakaian dan kebersihan diri
g.   Pengaturan suhu tubuh                                                  
h.   Mobilisasi                                                                          
\.   
Bekerja dan bermain                                        
j.    Seksualitas
k.   Tidur
2.   Rosemary Methven
Merupakan aplikasi dari Oream dan Hendeson, model terhadap asuhan kebidanan, dimana dalam sistem perawatan ada 5 metode pemberian bantuan yaitu :
a.   Mengerjakan untuk klien
b.   Membimbing klien
c.   Mendukung klien ( secara fisik dan psikologis )
d.   Menyediakan lingkunagan yang mendukung kemampuan klien untuk memenuhi kebutuhan sekarang dan masa akan datang.
e.   Mengajarkan klien

Peran bidan adalah mengidentifikasi masalah klien dan melakukan sesuatu untuk membantu klien untuk memenuhi kebutuhannya. Manfaat dari model ini menurut Methuen adalah sebagai bukti praktek pengkajian kebidanan yang tidak didasarkan pada kerangka kerja dari tradisi manapun. Sebagai dasarnya adalah kesehatan bukan kesakitan sehingga asuhan yang di berikan efektif bagi ibu dan memberikan kebebasan pada bidan untuk melakukan asuhan.

3.    Roy Adaption Model
Pencetusnya adalah suster Callista Roy (1960), sebagai dasarnya makhluk  biopsikososial  yang berhubungan     dengan     lingkungan. Dikemukakan   tiga   macam   stimulasi   yang   mempengaruhi   adaptasi kesehatan dari individu, yaitu :     .
a.    Vokal stimuli
Yaitu stimuli dari lingkungan di dekat individu, contohnya : kesehatan bay! akan mempengaruhi ibu yang baru saja melakukan fungsinya.
b.  Kontekstual stimuli Yaitu factor-faktor umum yang mempenagaruhi wanita. Contohnya : Kondisi kehidupan yang buruk
c.    Residual stimuli Yaitu faktor internal meliputi kepercayaan, pengalaman, dan sikap. Model kebidanan ini berguna bagi bidan dalam melakukan pengkajian secara menyeluruh (holistik)
4.   Neuman System Model
Yaitu model yang merupakan a'.val dari kesehatan individu dan komunitas (sistem klien) yang di gambarkan sebagai pusat energi yang di kelilingi oleh garis kekuatan dan pertahanan.
a.   Pusatnya adalah variable fisiologis, psikologis, sosial kultural dan spiritual
b.  Garis     kekuatan     adalah     kemampuan     sistem      klien     untuk mempertahankan keseimbangan tubuh.
c.   Garis pertahanan menunjukan status kesehatan umurn dari individu

F.  Teori -Teori yang Mempengaruhi Model Kebidanan
1. Teori Reva Rubin
Menekan pada pencapaian peran sebagai ibu, dimana untuk mencapai peran ini seorang wanita memerlukan proses belajar melalui serangkaian aktifitas atau latihan. Dengan demikian, seorang wanita terutama calon ibu dapat mempelajari peran yang akan dialaminya kelak sehingga ia mampu beradaptasi    dengan    perubahan-perubahan    yang    terjadi    khususnya perubahan psikososial dalam kehamilan dan setelah persalinan.
Menurut Rubin, seorang wanita sejak hamil sudah memiliki harapan- harapan, antara lain :
a.   Kesejahteraan ibu dan bayinya
b.   Penerimaan dari masyarakat
c.   Penentuan identitas diri
d.   Mengerti tentang arti memberi dan menerima

Perubahan yang terjadi pada ibu hamil adalah
1.   Ibu cenderung lebih tergantung dan lebih memerlukan perhatian sehingga dapat berperan sebagai calon ibu dan dapat memperhatikan perkembangan janinnya.
2.   Ibu memerlukan sosialisasi

Tahap-tahap psikososial yg biasa dilalui oleh  calon  ibu  dalam mencapai perannya:
a.   Anticipatory stage
Seorang ibu mulai melakukan latihan peran dan memerlukan interaksi dengan anak yang lain
b.   Honeymoon stage
Ibu mulai memahami sepenuhnya peran dasar yang dijalaninya. Pada tahap ini ibu memerlukan bantuan dari anggota keluarga yang lain.
c.   Plateu Stage
     Ibu akan mencoba apakah ia mampu berperan sebagai seorang ibu. Tahap ini memerlukan waktu beberapa minggu sampai ibu kemudian melanjutkan sendiri.
 d.  Disengagement
Merupakan   tahap   penyelesaian   yang   mana   latihan   peran   sudah berakhir

Aspek-aspek yang diidentiflkasi dalam peran ibu adalah gambaran tentang idaman, gambaran diri dan tubuh. Gambaran diri seorang wanita adalah pandangan wanita tentang dirinya sendiri sebagai bagian dari pengalaman dirinya, sedangkan gambaran tubuh adalah berhubungan dengan perubahan fisik yang terjadi selama kehamilan dan perubahan spesifik yang terjadi selama kehamilan dan setelah persalinan

Beberapa tahapan aktifitas penting sebelum seseorang menjadi ibu
a.   Taking On (tahapan meniru)
Seorang wanita dalam pencapaian peran sebagai ibu akan memulainya dengan meniru dan melakukan peran seorang ibu.
b.   Taking In
Seorang wanita sudah mulai membayangkan peran yang dilakukan. Introjection, projection, dan rejection merupakan tahap dimana wanita membedakan model - model yang sesuai dengan keinginannya.
c.   Letting Go
Wanita   mengingat   kembali   proses   dan   aktifitas   yang   sudah dilakukannya.    Pada   tahapan    ini    seorang   Wanita   akan    mulai meninggalkan perannya di masa lalu.

Adaptasi psikososial pada waktu post partum :
Keberhasilan masa transisisi menjadi orang tua pada masa post partum dipengaruhi oleh :
a.   Respon dan dukungan dari keluarga
b.   Hubungan  antara   pengalaman   saat  melahirkan   dengan  harapan   - harapan
c.   Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu
d.   Budaya

Rubin mengklasifikasikan tahapan ini menjadi 3 yaitu :
a.   Periode Taking In (hari ke 1-2 setelah melahirkan)
1.   Ibu masih pasif dan tergantung pada orang lain
2.   Perhatian ibu tertuju pada kekhawatiran pada perubahan tubuhnya.
3.   Ibu akan mengulangi pengalaman - pengalaman waktu melahirkan
4.   Memerlukan   ketenangan   dalam   tidur   untuk   mengembalikan keadaan tubuh ke kondisi normal
5.   Nafsu  makan  ibu  biasanya bertambah  sehingga membutuhkan peningkatan nutrisi. Kurangnya nafsu makan menandakan proses pengembalian kondisi tubuh tidak berlangsung normal
b.   Periode Taking Hold (Hari ke 2 - 4 setelah melahirkan)
1.   Ibu    memperhatikan    kemampuan    menjadi    orang    tua    dan meningkatkan tanggungjawab akan bayinya
2.   Ibu memfokuskan perhatian pada pengontrolan fungsi tubuh, BAK, BAB, dan daya tubuh
3.   Ibu berusaha untuk menguasai- ketrampilan merawat bayi seperti menggendong, menyusui, memandikan dan mengganti popok.
4.   Ibu   cenderung  terbuka  menerima  nasehat  bidan  dan   kritikan pribadi.
5.   Kemungkinan ibu mengalami depresi post partum karena merasa tidak mapu membesarkan bayinya.
c.   Periode Letting Go
1.  Terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan di pengaruhi oleh dukungan serta perhatian keluarga
2.  Ibu sudah mengambil tanggungjawab dalam merawat bay! dan memahami kebutuhan bayi sehingga akan mengurangi hak ibu dalam kebebasan dan hubungan sosial.
  
2. Teori Ramona Mercer
Teori ini lebih menekankan pada stess ante partum dalam pencapaian peran ibu. Mercer membagi teorinya menjadi 2 pokok bahasan :
a.   Efek stress ante partum
Stress Ante partum adalah komplikasi dari resiko kahamilan dan pengalaman negatif dalam negatif dalam hidup seorang wanita. Tujuan asuhan yang di berikan adalah memberikan dukungan selama hamil untuk mengurangi ketidak percayaan diri ibu. Penelitian Mercer menunjukan ada 6 faktor yang berhubungan denagn status kesehatan ibu, yaitu :
1.   Hubungan interpersonal
2.   Peran keluarga
3.   Stress antepartum
4.   Dukungan sosial
5.   Rasa percaya diri
6.   Penguasaan rasa takut, ragu, dan depresi
Maternal role menurut Mercer adalah bagaimana seorang ibu memperoleh identitas baru yang membutuhkan pemikiran dan penjabaran yang lengkap tentang dirinya sendiri.
b.   Pencapaian peran ibu
Peran ibu dapat dicapai bila ibu menjadi dekat dengan bayinya termasuk mengekspresikan kepuasan dan penghargaan peran. Lebih lanjut Mercer menyebutkan tentang stress antepartum terhadap fungsi keluarga baik yang positif maupun negatif. Stess antepartum karena resiko kehamilan akan mempengaruhi persepsi diri terhadap status kesehatan.

Empat tahapan dalam pelaksanaan peran ibu menurut Mercer :
a.   Anticipatory
Saat sebelum wanita menjadi ibu , dimana wanita mulai melakukan penyesuaian sosial dan psikologi dengan mempelajari segala sesuatu yg dibutuhkan untuk menjadi seorang ibu.
b.   Formal
Wanita  memasuki   peran   ibu  yang   sebenarnya,   bimbingan   peran dibutuhkan sesuai dengan kondisi sistem sosial
c.   Informal
Dimana wanita  sudah mampu  menemukan jalan  yang unik dalam melaksanakan perannya.
d.   Personal
Merupakan tahap terakhir, dimana wanita sudah mahir melakukan perannya sebagai ibu
Sebagai perbandingan, Rubin menyebutkan peran ibu sudah dimulai sejak ibu mulai hamil sampai 6 bualn setelah melahirkan, tetapi menurut Mercer mulainya peran ibu adalah setelah bayi lahir (3-7 bulan setelah melahirkan). Wanita dalam mencapai peran ibu dipengaruhi oleh faktor-faktor:
a.    Faktor ibu :
1)  Umur ibu pada waktu melahirkan
2)  Persepsi ibu pada waktu melahirkan pertama kali
3)  Stress sosial
4)  Memisahkan ibu dengan anak secepatnya
5)   Dukungan sosial.
6)   Konsep diri
7)  Si fat pribadi
8)  Sikap terhadap membesarkan anak.
9)  Status kesehatan ibu.
b.   Faktor bayi
1)  Temperamen
2)  Kesehatan bayi
c.   Faktor-faktor lainnya
1) Latar belakang etnik
2)  Status perkawinan
3)  Status ekonomi

Dari faktor sosial support, Mercer mengidentifikasikan adanya 4 faktor pendukung :
a.   Emotional support, yaitu perasaan mencintai, penuh perhatian, percaya dan mengerti.
b.  Informational  support,   yaitu   memberikan   informasi   yang   sesuai dengan kebutuhan ibu sehingga dapat membantu ibu untuk menolong dirinya sendiri.
c.   Physical support,  misalnya dengan  membantu merawat bayi dan memberikan tambahan dana.
d.  Appraisal support, ini memungkinkan individu mampu mengevaluasi dirinya sendiri dalam pencapaian peran ibu.

Mercer menegaskan bahwa umur, tingkat pendidikan, ras, status perkawinan, status ekonomi dan konsep diri adalah faktor - faktor yang sangat berpengaruh dalam pencapaian peran.
Peran bidan diharapkan oleh Mercer dalam teorinya adalah membantu wanita dalam melaksanakan tugas dalam adaptasi peran dan mengidentifikasi faktor - faktor yang mempengaruhi pencapaian peran ini dan kotribusi dari stress antepartum.

Stres dari pengalaman hidup yang buruk dan kehamilan berisiko membawa akibat negatif secara langsung pada penghargaan diri dan status kesehatannya : penghargaan diri, status kesehatan, dan dukungan sosial membawa akibat positif secara langsung pada penguasaan perasaan dan kemampuan orangtua ; penguasaan membawa perasaan akibat negatif secara langsung pada kegelisahan dan kehilangan dimana akhirnya juga membawa akibat negatif secara langsung pada fungsi keluarga.

3. Teori Ernestine Wiedenbach
a.   The Agents : Midwife
Fillosofi yang di kemukakan adalah tentang kebutuhan ibu dan bayi yang segera, untuk mengembangkan kebutuhan yang lebih luas yaitu kebutuhan untuk persiapan menjadi orang tua.
b.   The Recipient
Meliputi : wanita, keluarga dan masyarakat. Recipient menurut Wiedenbach adalah individu yang mampu menentukan kebutuhannya akan bantuan.
c.   The Goal / Purpose
Disesuaikan denagn kebutuhan masing - masing individu dengan memperhatikan tingkah laku fisik, emosional, atau fisiologikal.
d.   The Means
Metode untuk mencapai tujuan asuhan kebidanan ada 4 tahapan :
1.   Identifikasi  kebutuhan  klien    (Identification),  memerlukan keterampilan dan  ide
2.   Memberikan    dukungan  dalam  mencapai pertolongan    yang dibutuhkan (Ministrasion)
3.    Memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan (validation)
4.     Mengkoordinasi   tenaga   yang  ada   untuk memberikan   bantuan (Coordination)
 e.  The Framework meliputi lingkungan social, Organisasi & profesi.

4.  Teori Ela Joy Lerliman dan Morten
Teori   ini   mengharapkan   bidan   dapat   melihat   semua   aspek   dalam memberikan asuhan dalam ibu hamil dan bersalin. Lerhman dan morten mengemukakan 8 konsep penting dalam pelayanan antenatal :
a.   Asuhan Kebidanan yang berkesinambungan
b.   Keluarga sebagai pusat asuhan kebidanan.
c.   Pendidikan dan konseling merupakan sebagian dari asuhan
d.   Tidak ada intervensi dalam asuhan kebidanan.
e.   Keterlibatan dalam asuhan kebidanan
f.    Advokasi dari pelayanan kebidanan.
g.   Waktu

Morten ( 1991 ) mendambakan 3 macam dalam teori Lerhman "
a.   Tehknik teurapetik
Proses komunikasi sangat bermantaat dlm proses perkembangan & penyembuhan, misalnya :
*       Mendengar aktif
*       Mengkaji
*       Klarifikasi
*       Humor
*       Sikap yang tidak menuduh
*        Pengakuan.
*       Fasilitasi
*       Pemberian izin
b.   Pemberdayaan (Enpowerment)
Suatu proses memberi kekuasaan dan kekuatan. Bidan melalui penampilan dan pendekatannya akan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengkoreksi, memvalidasi, menilai dan memberi dukungan.
c.   Hubungan dengan sesama ( Lateral Relationship )
Menjalin hubungan yang baik dengan klien, bersikap terbuka, sejalan dengan klien, sehingga bidan dan kliennya nampak akrab. Misalnya sikap empati atau berbagi pengalaman

5.  Teori Jean Ball
Menurut Jean Ball respon terhadap perubahan setelah melahirkan akan mempengaruhi personality seseorang dan dengan dukungan mereka akan mendapatkan sistem keluarga dan sosial. Persiapan yang sudah dilakukan bidan pada masa postnatal akan mempengaruhi respon emotional wanita terhadap perubahan akibat proses kelahiran tersebut. Kesejahteraan wanita setelah melahirkan sangat tergantung pada personality atau kepribadian, sistem dukungan pribadi dan dukungan dari pelayanan maternitas.
Ball mengemukakan teori kursi goyang yang di bentuk 3 elemen
1.    Pelayanan maternitas.
2.   Pandangan masyarakat terhadap keluarga.
3.   Sisi penyangga atau support terhadap kepribadian vvanita

G.  Model Kebidanan Di Beberapa Negara
I.    United Kingdom
o     Bidan   Inggris  menuntut  adanya  pelayanan  mandiri   dan  menolak medical modal karena dianggap tidak cocok dengan praktek kebidanan
o    Mereka lebih banyak menggunakan Orem Self Care Model
o    Keuntungan   bagi   wanita   adalah   menernpatkan   kebutuhan   wanita sebagai   prioritas   utama,   wanita   berhak   memilih   asuhan   yang diinginkan dan rencana kelahiranya
o    Keuntungan bagi bidan adalah memudahkan bidan dalam memberikan asuhan yang berkesinambungan dan menerapkan women center care, memudahkan dalam melakukan asuhan mandiri dan komprehensif pada ibu, bayi dan keluarga .

2.   Australia
a)    Menggunakan modal partnership kebidanan dimana wanita sebagai partner bidan dalam berbagai pengalaman tentang proses melahirkan dan melahirkan adalah proses yang normal dalam kebidanan.
b)    Prinsip - prinsip yang mendasari partnership dalam kebidanan adalah:
o    Mengetahui dan mendukung kesatuan antara tubuh, pikiran, jiwa, lingkungan fisik dan social budaya (suatu yang holistic)
o    Sebagian besar wanita dapat melahirkan bayi tanpa intervensi.
o    Mendukung proses alamiah dalam tubuh .
o    Pelayanan kebidanan adalah seni dan ilmu, pendekatan pemecahan masalah di gunakan bila diperlukan .
o    Pelayanan kebidanan berpusat pada wanita.
o    Berhubungan dengan proses pencapaian peran ibu.
o    Memberdayakan wanita dalam pengambilan keputusan.
o    Pelayanan kebidanan dibatasi oleh hukum dan ruang lingkup praktek. Individu yang mengacu pada wanita dan petugas kesehatan lain jika di butuhkan.

3.   New Zealand
Menggunakan model patnership bidan dengan ibu. Adapun  fillosofi yang mendasari:
o    Kehamilan dan persalinan adalah proses kehidupan yang normal
o    Tugas kebidanan secara profesional adalah pendamping ibu dalam kehamilan, persalinan dan periode post natal normal.
o    Kebidanan      memberikan      pelayanan      kepada     wanita      secara berkesinambungan
o    Kebidanan berpusat pada wanita


Referensi :
1.    AA. Gde Muninjay, (1997), Manajemen Kesehatan, EGC Kedokteran, Jakarta
2.  Burbst, A.August, dkk, Editor Sanur Ahmad, (2000), Pemberdayaan Wanita Dalam Bidang Kesehatan, yayasan Essentia Medica, Yogyakarta
3.    Deokes RI, (2003), Konsep Asuhan Kebidanan, Tridasi Printer, Jakarta
4.  Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia, (2003), Manajemen Kebidanan Metode SOAP, Jakarta.
5.    Pengurus Pusat IBI, (2003), 50 tahun IBI Menyongsong Masa Depan, Jakarta
6.  Varney, Helen, (1997), Varneys Midwifery, Third Edition, UK : Jones & Barlett Publishers Internasional.
7. Wendy Rose-Neil, (2001), Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan, Dian Dian Rakyat, Jakarta


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar